Acara Kontes Nyanyi : Bukti Orang Indonesia Udah Gak Kreatif?

July 28th, 2008 | Tak Berkategori | No comments

Hampir semua acara televisi menyiarkan acara kontes nyanyi. Bahkan ada satu saluran tv swasta yang khusus “mendedikasikan” semua prime-time acaranya setiap hari khusus untuk menyiarkan acara kontes nyanyi. Bayangkan, Friend : Setiap hari…!!! Gak cuman 1 jam, tapi berjam-jam. Saya saja tidak tahu dari kapan acara itu mulai dan berakhir, karena waktu saya pulang kantor (18.00), acara itu sudah berjalan. Dan waktu saya akan tidur (23.00), acara itu belum juga berakhir.

Saya cukup salut dengan para pembawa acaranya. Mereka mampu “membangun” aura keceriaan dengan durasi yang cukup panjang, nyaris seminggu penuh. Di satu sisi, saya patut mengacungkan jempol karena mereka cukup kreatif dan imajinatif. Bukan suatu pekerjaan gampang, mempertahankan tensi para penonton agar tetap “on” dalam melihat acara yang begitu lama dan melelahkan. Belum lagi penonton kadang harus berjoget, menari, dan dikerjain lain.

Saya tidak terlalu memperhatikan acara itu. Dan - mohon maaf kepada para penonton dan stasiun televisi itu - saya merasa acara itu merupakan bukti betapa bangsa Indonesia sudah gak kreatif lagi dan emang terbukti latah. Okelah, para pembaca acaranya kreatif. Tapi… Man, apa gak bosan2 tuh menyiarkan sebuah acara berkepanjangan nyaris seminggu penuh?

Anda gak bosan? Saya aja bosan banget..! Padahal gak menonton (cuman sesekali, gak sengaja channelnya kepencet, pas ganti channel tv lain yang sedang iklan).

Sungguh. Saya gak habis pikir, di mana letak fun dari acara itu? Bahkan acara Masqurade yang paling saya sukai saja, jika diputar lebih dari 1 jam, udah terasa melelahkan dan membosankan. Apalagi sebuah tontonan yang lebih dari 4 jam. Setiap hari lagi.

Apa yang ingin dibuktikan produser acara sebenarnya? Bahkan seorang artis sekaliber Krisdayanti saja manggung hanya 2 jam. MAKSIMAL. Bukannya dia tidak bisa tampil lebih. Bisa banget! Apalagi kita membayar tiket hingga jutaan. Kenapa dia gak mau? Karena dia gak pengen penonton bosan. Dengan kemampuan persuasifnya pada penonton yang sudah kaliber internasional, saya yakin dia pasti mampu. Mau 6-7 jam manggung pun bisa. Dan penonton tidak akan meninggalkan dia. Sejengkal pun. Tapi Krisdayanti “cerdik”. Dia tidak membiarkan penonton terpaku padanya selama 6 jam, lalu melupakannya seumur hidup. Dia ingin penonton pulang membawa rasa penasaran. Dia ingin penonton membangun imej bahwa mereka baru menonton konser spektakuler Krisdayanti, dan itu baru 1/10 dari seluruh kemampuan Krisdayanti. Anda ingin tahu bagaimana 9/10 sisanya? Tontonlah konser Krisdayanti berikutnya! Ini akan membuat orang penasaran dan menunggu aksi Krisdayanti berikutnya.

Begitu juga American Idol. Acaranya hanya 1 jam, tapi dikemas dengan sangat optimal. Santai, tapi serius dan mendebarkan. Ada intrik dan “konspirasi” antar juri (terutama saat Simon menyikat semua komentar Paula Abdul, membuat mereka saling mencaci-maki dan saling bermusuhan). Seru dan menegangkan.

Dalam kontes nyanyi di Indonesia? Gak ada. Para penyanyi “dipaksa” menyanyi pol (walau mereka sudah sangat lelah secara mental dan fisik) hanya demi meraup hasil pooling 100 juri vote-lock. Ditambah lagi tindakan konyol para supporter2 yang rela menghabiskan biaya jutaan rupiah untuk meng-sms peserta yg didukungnya. Apa hasilnya? Gak ada. Bahkan ada seorang peserta yang harus rela menjual rumah dan tanahnya demi “membeli” sms2 pendukungnya. Akhirnya? Dari seorang kaya, dia kini menjadi tukang jualan keliling. Miris toh?

Nah, balik lagi ke masalah acara kontes nyanyi itu sendiri. Apa sih yang dicari? Acara itu tidak memberikan apapun bagi penonton selain bukti kalau orang kita sudah gak punya kreativitas lagi. Kita hanya bisanya “ngerjain” orang, bikin orang lain tertawa. Sedangkan yang “dikerjain”? Hancur fisik dan mental. Dia mungkin tertawa di depan kamera, tapi menangis di dalam hati. Gak percaya? Coba Anda yang digituin. Empat jam “dibodoh-bodohin” depan kamera, diketawain penonton se-Indonesia. Gak digaji lagi. Malah kudu ngeluarin duit, minta teman2 “voting” sms. Udah menang, apa yang didapat? Gak ada toh? Malah waktu kalah pun, benar-benar bak seorang pecundang.

Saya gak tahu gimana sekarang kalo ada peserta yang dieliminasi. Kalo dulu, yang kalah disuruh pulang sambil jinjing tas. Sungguh memalukan !!!! Seolah dia adalah seorang marinir diusir pulang karena baru melakukan pelanggaran berat.

Lihatlah kontes setingkat American Idol atau Asia Idol. Apa yg didapat para kontestan? Buanyak…!!! Bahkan baru masuk 24 besar aja udah dapat tawaran rekaman! Gila gak? Itu baru nunjukin kalo acara itu benar2 ada manfaat. Harga diri peserta pun dijaga dengan baik. Bahkan saat kalahpun, mereka kalah dengan “dignity”, ditandai dengan adegan flashback (saat2 jaya mereka), dan “slow motion walk” dengan iringan lagu “HOME” dari Daughtry (sangat mengharukan sekali….!!).

Ada baiknya produser tv bikin satu acara yang benar-benar berguna. Dengan durasi yang “wajar” dan bermutu, saya yakin bisa kok menjadi pembelajaran bagi kita, betapa orang Indonesia tuh kreatif, cerdas, punya wawasan, dan bisa menghargai orang. Acara “Menari Bersama Bintang”, “Let’s Dance”, “Ide Gila”, dan “Iron Chef” adalah beberapa contoh acara yang - menurut saya - punya misi yang mendalam dan membangun, serta cerdas.

Nah, daripada menggeber acara kontes nyanyi yang gak tentu arah, ada baiknya kita mencoba bersikap dewasa dengan menonton acara yang lebih berwawasan dan dewasa. Mau ketawa? Tonton Kick Andy. Mau pinter nyanyi? Tonton American Idol. Mau heboh? Tonton SmackDown!!!

Menikah di Usia Muda

July 28th, 2008 | Tak Berkategori | 1 comment

Hari ini saya membaca artikel di sebuah majalah internasional mengenai pernikahan dan kehamilan di usia muda. Terlebih lagi, film Juno - tentang remaja yang menikah dan punya anak di usia muda - menjadi box office beberapa minggu lalu, menggelitik saya untuk berkomentar.

Saya cukup bingung dengan tren masa kini yang mana pernikahan menjadi sesuatu yang “gampang” untuk dilakukan. Pagi tadi juga ada berita seorang presenter akan melepas masa lajangnya tahun depan. Padahal usianya baru 24 tahun. Begitu juga bintang lain yang berencana menikah di usia yang relatif muda.

Memang Undang-undang negara kita memperbolehkan pria dan wanita menikah minimal berusia 18 tahun atau telah punya pekerjaan dan mampu menafkahi keluarganya. Tapi yang menjadi pertanyaan bagi saya : apakah mereka sudah siap secara mental?

Angka perceraian yang cukup tinggi, membuat saya bertanya-tanya : apakah mereka sudah mempersiapkan mental jauh sebelum mereka memutuskan untuk menikah? Soalnya, alasan perceraian selalu “tidak ada kecocokan”. Lha, jika tidak ada kecocokan, mengapa menikah? Buat fun-fun aja? Atau cuman sekedar “mengesahkan” hubungan badan agar tidak dibilang berdosa ama ustadz?

Bukannya saya skeptik terhadap para remaja yang menikah di usia muda. Tapi… apakah mereka sudah benar2 siap? Secara lahir udah pasti siaplah. Tapi batin, bagaimana? Sudah bisa menerima pasangan Anda apa adanya?

Dalam sebuah variery-show kemarin sore di sebuah tv swasta, ada “kasus” seorang wanita yang akan menikah, tapi satu ketika tahu kekasihnya adalah seorang penjahat yang tega menelantarkan kedua orang tuanya. Nah, apa dia tetap bisa menerima kekasihnya dan menikahinya? Apa dia sudah siap dengan kemungkinan dia akan diperlakukan sama seperti kedua orang tua kekasihnya itu? Pertanyaannya inilah yang tidak terjawab (dan sengaja tidak ingin dijawab oleh produser acara itu) hingga acara selesai (menyebalkan sekali…!!!!).

Memang mempersiapkan diri tidaklah mudah. Tapi ketika kita telah bertekad melangkah ke jenjang pernikahan, otak kita harusnya sudah langsung dikunci dengan kalimat, “APAPUN YANG AKAN TERJADI, AKU TIDAK AKAN BERCERAI.” Dengan berkata demikian, kita berkomitmen bahwa kita akan mencintai pasangan kita apa adanya. Dan kita berkomitmen dapat menerima dia apa adanya. Pernikahan tuh bukan main2. Butuh komitmen. Apapun kesalahan, kelemahan, dan keburukan pasangan kita, harus kita terima manakala kita mengikat hubungan kita dalam pernikahan.

Adalah hal yang picik dan childish banget ketika baru menikah beberapa tahun, tiba-tiba bercerai lantaran “tidak menemukan kecocokan”. Sebuah jawaban yang secara langsung mengumumkan pada publik kalau kita adalah “ORANG BODOH”. Mana mungkin kau baru “Sadar” tidak cocok dengannya setelah menikah? Bukankah kau telah berpacaran dengannya sekian lama? Bukankah tujuan pacaran adalah saling mengenal satu sama lain dan mencari kecocokan? Dan bukankah setelah menemukan kecocokan, kalian baru menikah dan bukan sebaliknya? Jika sudah menikah baru bilang “tidak menemukan kecocokan”, lalu kalian ngapain aja selama pacaran?

Masalahnya, di usia muda banyak orang yang belum punya pertanyaan2 itu dalam benaknya. Semuanya hanya mikir serba indah saja, tanpa memikirkan jauh ke depan. Mereka tahu bahwa pernikahan yang sakral harusnya terjadi sekali seumur hidup. Tapi mereka tidak tahu, bahwa untuk mempertahankan sebuah pernikahan butuh sebuah komitmen untuk berani menerima kekurangan pasangannya.

Ya… jika anda tetap bersikeras untuk menikah, tidak masalah. Toh itu hidup Anda sendiri. Pertanyaannya : Apakah anda sudah cukup dewasa untuk berkomitmen? Pernikahan bukan sebuah acara main2. Anda mengeluarkan banyak uang dan waktu untuk membuat sebuah acara pernikahan. Anda pun telah “merepotkan banyak pihak” untuk berperan, datang, dan menjadi saksi acara sakral kalian. Jadi, jika anda memang merasa sudah dewasa dan mampu berkomitmen, hargailah uang, waktu, dan orang2 yang Anda undang itu.

RYAN, Sang Pembunuh Berantai

July 28th, 2008 | Tak Berkategori | No comments

Beberapa minggu ini, gue liat di tv kayaknya gak habis-habisnya mengulas Ryan, sang pembunuh dari Jombang. Hal yang unik adalah beberapa media mempertanyakan apakah Ryan adalah seorang psikopat atau bukan? Satu pertanyaan yang, bagi saya, cukup “aneh”. Dalam artian, secara kasat mata, terlihat dengan jelas bahwa Ryan membunuh dan mengakui pembunuhannya.

Seorang pakar psikolog pun telah demikian jelas menyatakan bahwa ciri-ciri seorang psikopat adalah orang yang tidak menyesali atau merasa bersalah atas tindakan yang dilakukannya. Nah, bedanya dengan Ryan, dia mengakui perbuatannya, dan dia sadar kesalahannya. Tapi media “keukeuh” beranggapan dia seorang psikopat.

Ada hal yang janggal nih di media kita. Mengapa mereka bersikukuh ingin membentuk sosok Ryan sebagai sosok seorang “psikopat”? Apakah ingin terlihat “keren” (yalah… gimana gak keren jika negeri tercinta kita ternyata punya seorang “berkemampuan” setara Hannibal Lector, Ted Bundy, atau Zodiac Killer)?

Saya lebih condong menyebut Ryan cukup sebagai seorang pembunuh berantai saja. Dia membunuh karena “butuh”. Dia buth uang, maka membunuh. Butuh pemuasan hasrat seks, dia pun membunuh. Hanya itu.

Ryan tidak memiliki profil seorang psikopat. Seorang psikopat akan membunuh dengan MO (Modus Operandi) / pola yang sama. apapun kondisinya, dia akan berusaha untuk melakukan pola itu karena itu sudah menjadi “trade mark”-nya. Berbeda dengan Ryan, dia tidak punya itu. Korban pertamanya di apartemen dimutilasi (karena masalah uang). Tapi korban2 lain di halaman rumahnya hanya dibunuh dan ditimbun begitu saja.

Ryan pun sadar tindakannya salah. Hal ini berbeda dengan Ted Bundy yang tidak merasa bersalah. Bahkan kecewa karena tidak ditembak mati Polisi David Lee ketika tertangkap membawa mobil korbannya, Kimberly Leach (12 tahun), di Pensacola, Florida (15 Feb 1978).

Di tengah arus informasi yang berseliweran dan membesar-besarkan kasus Ryan, saya lebih ingin kita fokus pada kasus korban mutilasi yang terjadi di Bekasi beberapa minggu lalu. Siapakah pelakunya? Saya tidak yakin Ryan pelakunya karena lokasi pembunuhan terlalu jauh. Kalau mau bilang, pelaku pembunuhan mutilasi di Bekasi itulah psikopat sebenarnya. Beberapa kali dia membuang korbannya dalam keadaan terpotong di dus. Uniknya, semua korban selalu dibuang di Bekasi. Siapakah pelaku? Siapakah korban? Inilah PR yang perlu segera diselesaikan secepatnya, sebelum muncul korban lain.

Halo dunia!

July 26th, 2008 | Tak Berkategori | No comments

Hallo, Dunia… Akhirnya gue lahir juga di dunia Detik.com. Mudah-mudahan ini menjadi awal seru gue di dunia ini.