Hampir semua acara televisi menyiarkan acara kontes nyanyi. Bahkan ada satu saluran tv swasta yang khusus “mendedikasikan” semua prime-time acaranya setiap hari khusus untuk menyiarkan acara kontes nyanyi. Bayangkan, Friend : Setiap hari…!!! Gak cuman 1 jam, tapi berjam-jam. Saya saja tidak tahu dari kapan acara itu mulai dan berakhir, karena waktu saya pulang kantor (18.00), acara itu sudah berjalan. Dan waktu saya akan tidur (23.00), acara itu belum juga berakhir.
Saya cukup salut dengan para pembawa acaranya. Mereka mampu “membangun” aura keceriaan dengan durasi yang cukup panjang, nyaris seminggu penuh. Di satu sisi, saya patut mengacungkan jempol karena mereka cukup kreatif dan imajinatif. Bukan suatu pekerjaan gampang, mempertahankan tensi para penonton agar tetap “on” dalam melihat acara yang begitu lama dan melelahkan. Belum lagi penonton kadang harus berjoget, menari, dan dikerjain lain.
Saya tidak terlalu memperhatikan acara itu. Dan - mohon maaf kepada para penonton dan stasiun televisi itu - saya merasa acara itu merupakan bukti betapa bangsa Indonesia sudah gak kreatif lagi dan emang terbukti latah. Okelah, para pembaca acaranya kreatif. Tapi… Man, apa gak bosan2 tuh menyiarkan sebuah acara berkepanjangan nyaris seminggu penuh?
Anda gak bosan? Saya aja bosan banget..! Padahal gak menonton (cuman sesekali, gak sengaja channelnya kepencet, pas ganti channel tv lain yang sedang iklan).
Sungguh. Saya gak habis pikir, di mana letak fun dari acara itu? Bahkan acara Masqurade yang paling saya sukai saja, jika diputar lebih dari 1 jam, udah terasa melelahkan dan membosankan. Apalagi sebuah tontonan yang lebih dari 4 jam. Setiap hari lagi.
Apa yang ingin dibuktikan produser acara sebenarnya? Bahkan seorang artis sekaliber Krisdayanti saja manggung hanya 2 jam. MAKSIMAL. Bukannya dia tidak bisa tampil lebih. Bisa banget! Apalagi kita membayar tiket hingga jutaan. Kenapa dia gak mau? Karena dia gak pengen penonton bosan. Dengan kemampuan persuasifnya pada penonton yang sudah kaliber internasional, saya yakin dia pasti mampu. Mau 6-7 jam manggung pun bisa. Dan penonton tidak akan meninggalkan dia. Sejengkal pun. Tapi Krisdayanti “cerdik”. Dia tidak membiarkan penonton terpaku padanya selama 6 jam, lalu melupakannya seumur hidup. Dia ingin penonton pulang membawa rasa penasaran. Dia ingin penonton membangun imej bahwa mereka baru menonton konser spektakuler Krisdayanti, dan itu baru 1/10 dari seluruh kemampuan Krisdayanti. Anda ingin tahu bagaimana 9/10 sisanya? Tontonlah konser Krisdayanti berikutnya! Ini akan membuat orang penasaran dan menunggu aksi Krisdayanti berikutnya.
Begitu juga American Idol. Acaranya hanya 1 jam, tapi dikemas dengan sangat optimal. Santai, tapi serius dan mendebarkan. Ada intrik dan “konspirasi” antar juri (terutama saat Simon menyikat semua komentar Paula Abdul, membuat mereka saling mencaci-maki dan saling bermusuhan). Seru dan menegangkan.
Dalam kontes nyanyi di Indonesia? Gak ada. Para penyanyi “dipaksa” menyanyi pol (walau mereka sudah sangat lelah secara mental dan fisik) hanya demi meraup hasil pooling 100 juri vote-lock. Ditambah lagi tindakan konyol para supporter2 yang rela menghabiskan biaya jutaan rupiah untuk meng-sms peserta yg didukungnya. Apa hasilnya? Gak ada. Bahkan ada seorang peserta yang harus rela menjual rumah dan tanahnya demi “membeli” sms2 pendukungnya. Akhirnya? Dari seorang kaya, dia kini menjadi tukang jualan keliling. Miris toh?
Nah, balik lagi ke masalah acara kontes nyanyi itu sendiri. Apa sih yang dicari? Acara itu tidak memberikan apapun bagi penonton selain bukti kalau orang kita sudah gak punya kreativitas lagi. Kita hanya bisanya “ngerjain” orang, bikin orang lain tertawa. Sedangkan yang “dikerjain”? Hancur fisik dan mental. Dia mungkin tertawa di depan kamera, tapi menangis di dalam hati. Gak percaya? Coba Anda yang digituin. Empat jam “dibodoh-bodohin” depan kamera, diketawain penonton se-Indonesia. Gak digaji lagi. Malah kudu ngeluarin duit, minta teman2 “voting” sms. Udah menang, apa yang didapat? Gak ada toh? Malah waktu kalah pun, benar-benar bak seorang pecundang.
Saya gak tahu gimana sekarang kalo ada peserta yang dieliminasi. Kalo dulu, yang kalah disuruh pulang sambil jinjing tas. Sungguh memalukan !!!! Seolah dia adalah seorang marinir diusir pulang karena baru melakukan pelanggaran berat.
Lihatlah kontes setingkat American Idol atau Asia Idol. Apa yg didapat para kontestan? Buanyak…!!! Bahkan baru masuk 24 besar aja udah dapat tawaran rekaman! Gila gak? Itu baru nunjukin kalo acara itu benar2 ada manfaat. Harga diri peserta pun dijaga dengan baik. Bahkan saat kalahpun, mereka kalah dengan “dignity”, ditandai dengan adegan flashback (saat2 jaya mereka), dan “slow motion walk” dengan iringan lagu “HOME” dari Daughtry (sangat mengharukan sekali….!!).
Ada baiknya produser tv bikin satu acara yang benar-benar berguna. Dengan durasi yang “wajar” dan bermutu, saya yakin bisa kok menjadi pembelajaran bagi kita, betapa orang Indonesia tuh kreatif, cerdas, punya wawasan, dan bisa menghargai orang. Acara “Menari Bersama Bintang”, “Let’s Dance”, “Ide Gila”, dan “Iron Chef” adalah beberapa contoh acara yang - menurut saya - punya misi yang mendalam dan membangun, serta cerdas.
Nah, daripada menggeber acara kontes nyanyi yang gak tentu arah, ada baiknya kita mencoba bersikap dewasa dengan menonton acara yang lebih berwawasan dan dewasa. Mau ketawa? Tonton Kick Andy. Mau pinter nyanyi? Tonton American Idol. Mau heboh? Tonton SmackDown!!!